Sakralitas Burung Enggang dalam Teologi Lokal Masyarakat Dayak Kanayatn

Claudya Ingrid Sahertian

Abstract


This article aims to explore the culture of the Dayak Kanayatn people regarding the rituals and sacredness of hornbills. Retrieval of data using qualitative research with the ethnography method, through interview techniques, observation, documentary studies, and literature studies. The community makes hornbills a sacred symbol. This attitude can be seen when the community carries out Karana traditional rituals as an implementation of local theology and narrates them in dances, carvings, carvings, and traditional clothing attributes. Through rituals, the community believes that the hornbill is a link between heaven (subayatn) and the world that brings people to death (pidara) into eternity. Hornbills have a significant influence on the Kanayatn Dayak indigenous people because they contain noble values. Everything related to hornbills, including their lifestyle, natural seed dispersers, forest guards, physical beauty, has become sacred to the Kanayatn Dayak community. This study concludes that the hornbill is a sacred symbol in local theology and capital of social integration for the Kanayatn Dayak community.

Abstrak

Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi budaya masyarakat Dayak Kanayatn tentang ritual dan sakralitas burung Enggang. Pengambilan data menggunakan penelitian kualitatif dengan metode ethnografi dan nethnografi, melalui teknik wawancara, observasi, studi dokumenter dan studi pustaka. Masyarakat menjadikan burung Enggang sebagai simbol sakral. Sikap tersebut terlihat ketika masyarakat melaksanakan ritual adat Karana sebagai implementasi teologi lokal, serta menarasikannya dalam tarian, ukiran, pahatan dan atribut pakaian adat. Melalui ritual  masyarakat meyakini bahwa burung Enggang sebagai penghubung  surga (subayatn) dan dunia. Burung Enggang yang membawa orang meninggal (pidara) masuk kekekalan. Burung Enggang memberi pengaruh yang signifikan bagi masyarakat adat Dayak Kanayatn karena mengandung nilai-nilai yang luhur. Segala sesuatu yang berhubungan dengan burung Enggang baik pola hidup,  pemencar biji alami, penjaga hutan, keindahan fisik, menjadi sakral bagi masyarkat Dayak Kanayatn. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Burung Enggang adalah simbol sakral dalam teologi lokal  dan modal integrasi sosial bagi masyarakat Dayak Kanayatn.


Keywords


Dayak Kanayatn; hornbills; local theology; sacred; symbol; burung enggang; simbol; sakral; teologi

Full Text:

PDF

References


Banawiratma, J. B; J. Muller. Berteologi Sosial Lintas Ilmu; Kemiskinan Sebagai Tantangan Hidup Beriman, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993, cetak ulang ke-8.2004.

Cresswell, John W. Penelitian Kualitatif & Desain Riset, Memilih Diantara Lima Pendekatan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2015.

Dillistone, Fredrik William. The Power Of Symbols, Daya Kekuatan Simbol, Yogyakarta: Pustaka Filsafat. 2002.

Durkheim, Emile. The Elementary Forms Of The Religious Life (Bentuk-Bentuk Dasar Kehidupan Beragama), Yogyakarta: Penerbit IRCiSoD. 2017.

Eliade, Mircea. The Two and The One. London: Harvill Press. 1965.

_______. The Sacredand The Profan. New York: Harcout, Brace World. 1956.

Eliade, Mircea & J. M. Kitagawa. The History of Religion: Essay in Methodology, Illinois: Chicago University Press. 1959

Hardiman, F. Budi, Seni memahami, Hermeneutik dari Schleiermacher sampai Derrida. Yogyakarta: Kanisius. 2015.

Kaelan, H. Metode Penelitian Kualitatif Interdisipliner Bidang Sosial, Budaya, Filsafat, Seni, Agama Dan Humaniora. Yogyakarta: Penerbit Paradigma. 2012.

Knitter, Paul F. Penerjemah Nico A. Likumahuwa. Pengantar Teologi Agama-Agama. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 2008.

Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan. Dokumen Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Rangkong Gading Indonesia 2018-2028. 2018.

Kozinets, Robert. Nethnography: Doing Ethnography Research Online. London : Sage Publication Ltd. 2015.

Lattu, Izak. Menolak Narasi Tunggal, Diskursus Agama, Pluralisme dan Demokrasi. Salatiga: Satya Wacana University Press. 2018.

________. “Teologi Tanpa Tinta: Mencari Logos Melalui Ethnographi dan Folklore” dalam Membangun Gereja Gerakan Yang Cerdas dan Solider. Apresiasi Terhadap Kegembalaan Ignatius Kardinal Suharyo, Fransiskus Purwanto dan Agustinus Tri Edy Warsono. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press. 2020.

Nasrullah, Adon, Jamaludin, Dasar-Dasar Patologi Sosial. Bandung. Pustaka Setia. 2016.

Pilakoannu, Rama Tulus, ”Ibadah bernuansa Etnik Dalam Pemahaman Sosiologi Agama Demi Pengembangan Teologi Lokal” dalam Sosiologi Agama Pilihan Berteologi di Indonesia, , Izak Lattu dkk. Salatiga. Fakultas Teologi – Universitas Kristen Satya Wacana. 2016.

Ricoeur, Paul. The Symbolism of Evil. London. Beacon Press. 1967.

U, Lontaan, J. Sejarah-Hukum Adat Dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: diterbitkan oleh Pemda Tingkat I KalBar Edisi I. 1975.

Sedmak, Clemens. Doing Local Theology; A Guide for Artisans of a New Humanity. New York: Orbits Books, maryknoll, 1971, cetak ulang Fourth Printing. January 2006.

Scharen, Christian and Aana Marie Vigen. Ethnography as Christiany Theology and Etics. London, Maiden Lane: Continuum International Publishing Group. New York 10038. 2011.

Schreiter, Robert J., Constructing Local Theology. Maryknoll: New York. Orbis Book. 1985.

Diningrat, Riky Hamsyah. Penegakan Hukum Terhadap Tindak Pidana Perdagangan Satwa Liar Yang Dilindungi Enurut Uu No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Ala Hayati Dan Ekosistemnya (Study Kasus terhadap Perdagangan Burung Paruh Enggang di Propinsi KaliMantan Barat). Jurnal NESTOR, Magister Hukum, (2017): 1-15.

Djoko, Triono, Ani muani, Safri Sagiman. Strategi Pengembangan Kebun Sawit Lahan Gambut Kabupaten Kubu Raya”. Jurnal Social Economic of Agriculture Vol. 4- No. 2. (2015): 40-48.

Hanum, Irma Surayya, Dahri Dahlan. Makna Mitos Burung Enggang Di Kalimantan Timur. Calls, Jurnal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics, Vol. 4 No.1 (2018): 31-48.




DOI: http://dx.doi.org/10.33991/epigraphe.v5i1.202

Article Metrics

Abstract view : 36 times
PDF - 80 times

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2021 Author

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.


This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

EPIGRAPHE telah terindeks pada situs:

View Epigraphe Stats